Cerita Evangelion Tak Sedalam Itu, Kata Author Hideaki Anno

12 April 2025, 16:32 WIB
Bagikan:
Cerita Evangelion Tak Sedalam Itu, Kata Author Hideaki Anno

AreaTopik.com —  Ternyata, Evangelion mungkin tidak sekompleks yang selama ini kita bayangkan.

Selama hampir tiga dekade, Neon Genesis Evangelion dikenal sebagai salah satu anime paling rumit dan penuh teka-teki.

Penggunaan simbol-simbol keagamaan, isu trauma psikologis, dan dialog yang terdengar filosofis membuat banyak orang yakin bahwa ada makna mendalam yang tersembunyi di balik cerita dan karakternya.

Namun, sebuah wawancara lama dengan sang author Hideaki Anno, baru-baru ini kembali mencuat dan viral di Jepang.

Wawancara ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan apakah mereka selama ini terlalu memaknainya secara berlebihan.

Evangelion tidak mendalam: Hideaki Anno mengatakan bahwa ia hanya berpura-pura

“Evangelion sering disebut filosofis, tapi sebenarnya tidak. Itu cuma sok-sokan saja.”

Pernyataan ini kembali ramai dibicarakan di internet setelah transkrip lengkap dari wawancara tersebut beredar di komunitas Jepang.

Banyak penggemar pun terkejut, apalagi mereka yang sudah bertahun-tahun menganalisis dan membedah isi serial ini.

Anno menjelaskan bahwa Evangelion memang sengaja dibuat agar terlihat pintar, bukan karena benar-benar ingin jadi karya yang intelektual.

Ia bahkan memakai istilah Jepang “gen-gakuteki,” yang menggambarkan seseorang yang sengaja memamerkan pengetahuannya supaya tampak cerdas.

Anno Menjelaskan: Tidak Ada Makna Tersembunyi dalam Evangelion

Anno juga mengungkapkan bahwa unsur misteri dan tema-tema rumit dalam Evangelion sebenarnya cuma bagian dari gaya penyajian—tujuannya supaya serial ini tampak intelektual.

“Kelihatannya seperti ada sesuatu di baliknya, tapi sebenarnya tak ada. Nggak ada makna tersembunyi,” kata Anno blak-blakan.

Wawancara Bersama Hideaki Anno
Foto: Wawancara Bersama Hideaki Anno

Anno mengatakan bahwa simbol Kristen di pilih karena terlihat menarik, bukan karena alasan religius. Ia juga mengkritik bagaimana beberapa penonton menjadikan Evangelion sebagai pelarian dari kenyataan.

“Eva jadi tempat nyaman buat penonton bersembunyi dari realitas. Saya nggak ingin seperti itu,” ujarnya.

Karena itulah, arah ceritanya berubah di The End of Evangelion dan film Rebuild jadi lebih keras dan tidak mudah di tafsirkan sembarangan.

Walaupun Anno meremehkan sisi intelektual, ia menegaskan bahwa sisi emosionalnya justru sangat tulus.

Rasa kesepian, cemas, dan ragu yang muncul di serial ini datang dari perjuangannya sendiri saat proses produksi.

Jadi, meskipun Evangelion mungkin tak sedalam itu secara filosofis, secara emosional justru sangat kuat dan itulah yang bikin banyak penggemar merasa terhubung.

Komentar Anno ini juga membangkitkan lagi perdebatan lama: mana yang lebih penting, maksud si pembuat atau interpretasi penonton?

Walaupun Anno bilang Evangelion tidak punya makna yang dalam, jutaan orang tetap menemukan sesuatu yang berarti di dalamnya.

Koneksi emosional itu nyata, terlepas dari apa pun yang di katakan kreatornya sekarang.

Sumber: Otakomu