Dubes Jepang Respon Tren #KaburAjaDulu, Sambut Warga Yang Ingin Pindah

23 Februari 2025, 20:50 WIB
Bagikan:
Dubes Jepang Respon Tren #KaburAjaDulu, Sambut Warga Yang Ingin Pindah

AreaTopik.com — AreaTopik.comDuta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, merespons viralnya tagar #KaburAjaDulu yang ramai diperbincangkan warganet Tanah Air.

Dalam acara peringatan Ulang Tahun Kaisar Jepang (National Day Reception) di Hotel St Regis, Jakarta Selatan (20/2/2025), ia menegaskan bahwa pemerintah Jepang membuka peluang bagi pekerja terampil asal Indonesia, sembari menyebut keistimewaan hubungan bilateral kedua negara.

Tanggapan Dubes Jepang Masaki Yasushi

Dubes Jepang Masaki Yasushi beri tanggapan terkait tren #KaburAjaDulu
Foto: Dubes Jepang Masaki Yasushi beri tanggapan terkait tren #KaburAjaDulu

Sejak resmi menjabat sebagai Dubes pada Oktober 2023, Masaki Yasushi menyatakan kekagumannya terhadap semangat kerja masyarakat Indonesia. “Warga Indonesia sangat istimewa.

Kami memiliki sejarah persahabatan panjang, dan banyak pekerja dari sini yang telah membuktikan dedikasi tinggi di Jepang,” ujarnya.

Menurutnya, adaptasi budaya antara pekerja Indonesia dan masyarakat Jepang terbilang mudah karena minimnya perbedaan signifikan. “Mungkin satu-satunya perbedaan utama adalah agama, di mana mayoritas pekerja Indonesia beragama Islam.

Namun, masyarakat Jepang kini semakin memahami dan menghormati keyakinan tersebut,” tambah Masaki.

Ia juga menekankan bahwa pekerja Indonesia di Jepang mendapat apresiasi tinggi, terutama dalam sektor industri yang membutuhkan keahlian teknis. “Kami yakin bisa menarik lebih banyak tenaga terampil dari Indonesia,” ungkapnya.

Masaki mengakui bahwa penguasaan bahasa Jepang menjadi syarat penting bagi pekerja asing. Namun, ia menegaskan bahwa bahasa teknis di dunia kerja tidak terlalu kompleks dan bisa di pelajari dalam waktu singkat.

Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Jepang yang membuka 820 ribu lowongan untuk tenaga kerja asing periode 2024-2029.

Langkah ini di ambil untuk mengatasi krisis demografi, di mana populasi lansia meningkat sementara angka kelahiran terus menurun.

Data terbaru menunjukkan, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang melonjak 192 persen sejak 2018, mencapai 121.507 orang pada 2025.

Media internasional menyoroti faktor upah sebagai daya tarik utama, dengan rata-rata gaji di Jepang sekitar Rp18,7 juta per bulan—jauh lebih tinggi di banding upah minimum di Indonesia.

Terkait Tren #KaburAjaDulu

Tren #KaburAjaDulu
Foto: Tren #KaburAjaDulu

Tren #KaburAjaDulu yang awalnya berisi ajakan mencari peluang di luar negeri kini berkembang menjadi simbol protes terhadap kondisi dalam negeri.

Warganet menyoroti minimnya lapangan kerja, upah tak layak, sistem pendidikan yang kurang kompetitif, serta jaminan sosial yang belum merata.

Ini bukan sekadar ajakan kabur, tapi ekspresi kekecewaan generasi muda yang merasa masa depannya terancam,” komentar seorang pengguna Twitter.

Tagar ini juga di manfaatkan untuk berbagi informasi beasiswa, prosedur kerja ke luar negeri, hingga tips hidup di negara tujuan.

Meski demikian, Masaki menegaskan bahwa Jepang tetap memprioritaskan kualitas calon pekerja. “Kami tidak hanya membuka pintu, tetapi juga mencari individu yang siap berkontribusi dan beradaptasi,” pungkasnya.

Di tengah dinamika ini, pemerintah Indonesia diharapkan merespons dengan kebijakan yang mampu menahan “gelombang kabur” melalui perbaikan sistem ketenagakerjaan dan peningkatan daya saing SDM.