AreaTopik.com — AreaTopik.com – Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) terus berkembang menjadi ancaman yang semakin kompleks.
Laporan terbaru dari Cloudflare mengungkap tren serangan ‘hypervolumetric’ yang mengandalkan kecepatan tinggi dan intensitas besar dalam waktu singkat.
Pada 29 Oktober 2024, botnet berbasis Mirai menyerang sebuah ISP di Asia Timur dengan kecepatan mencapai 5,6 terabit per detik.
Botnet ini memanfaatkan 13.000 perangkat yang telah diretas dan mengirimkan permintaan dari sekitar 5.500 alamat IP unik setiap detik.
Rata-rata kontribusi tiap IP mencapai 1 Gbps.
Meski intensitas serangan begitu besar, durasinya hanya berlangsung selama 80 detik. Cloudflare mengklaim mampu menangani serangan tersebut secara otomatis tanpa intervensi manusia. “Sistem pertahanan kami bekerja sesuai rencana tanpa menimbulkan gangguan performa,” jelas Cloudflare dalam laporannya.

Laporan ini juga mencatat bahwa Indonesia menjadi sumber utama serangan DDoS global selama paruh kedua tahun 2024.
Serangan dengan intensitas tinggi terus meningkat, dengan jumlah serangan melebihi 1 Tbps meningkat sebesar 1.885% secara kuartalan (quarter-on-quarter).
Serangan yang mencapai 100 juta paket per detik (pps) juga naik 175% dalam periode yang sama.
Meski begitu, Cloudflare mencatat sebagian besar serangan HTTP dan lapisan jaringan berlangsung kurang dari 10 menit.
Hal ini mendorong implementasi sistem perlindungan otomatis untuk menghadapi durasi singkat yang tidak memungkinkan respons manual secara efektif.
Di tengah tren ini, ancaman DDoS menjadi pengingat bagi perusahaan teknologi dan organisasi untuk terus meningkatkan sistem keamanan mereka, terutama menghadapi serangan yang semakin terencana dan masif.







