AreaTopik.com — Sebuah unggahan singkat kembali mengguncang media sosial.
Unggahan tersebut datang dari seorang cosplayer terkenal. Ia memiliki paras yang sangat menarik.
Pengakuannya benar-benar mengejutkan. Katanya, bos tersebut terang-terangan merekrutnya.
Alasan utama rekrutmen adalah daya tarik visual. Hal lain seperti kualifikasi diabaikan saja. Bahkan, kinerja dan pengalaman tidak penting. Cuitan ini langsung menjadi perbincangan panas.
Ini menyoroti realitas bias penampilan. Bias ini sangat kuat di industri kreatif.
Daya Jual Rupa di Industri Kreatif dan Digital
Fenomena ini bukanlah tanpa alasan yang jelas. Di era digital, citra adalah segalanya.
Penampilan sangat menentukan daya tarik konten. Orang dengan rupa menarik lebih mudah mendapat perkenalan. Sebagai contoh, seorang cosplayer memiliki basis penggemar.

Basis ini sangat loyal dan besar. Perusahaan dapat memanfaatkan popularitas ini.
Mereka menganggap kecantikan adalah aset pemasaran. Oleh karena itu, rupa meang menjadi hal yang penting.
Rupa melebihi keterampilan teknis lain. Ini menunjukkan pergeseran nilai perekrutan.
Risiko dan Ketidakadilan Bagi Profesional Wanita
Fokus berlebihan pada rupa sangat berisiko. Ini menimbulkan diskriminasi gender.
Wanita sering dihadapkan standar ganda. Mereka perlu terlihat profesional dan cantik.

Hal ini sangat jarang terjadi pada pria. Kecantikan bisa jadi menggeser kompetensi.
Keterampilan seharusnya tetap menjadi prioritas. Meskipun demikian, sulit menolak peluang kerja.
Apalagi jika peluang itu datang karena kecantikan. Akan tetapi, ini sangat tidak adil jangka panjang.
Kualitas kerja harus menjadi penentu karier.
Menuju Perekrutan yang Lebih Adil dan Berintegritas
Perusahaan perlu membangun etika kuat. Mereka harus mengukur kualitas kerja.
Kualitas ini harus dilihat secara objektif. Rupa seharusnya tidak lagi dominan. Tentu saja, penampilan bisa menjadi nilai tambah.
Tetapi, hanya jika relevan dengan posisi. Contohnya seperti brand ambassador.
Di samping itu, kejujuran juga diperlukan. Pengakuan bos itu bisa bersifat ironis.
Atau mungkin ini bentuk pengakuan yang jujur. Bagaimanapun juga, profesionalisme harus menang.
Kita perlu fokus pada kemampuan sejati.
Sumber: X







