AreaTopik.com - Sebuah foto beredar luas di media sosial, memperlihatkan perempuan berhijab mengenakan kimono di jalanan Kyoto.
Pemandangan ini tampaknya sederhana, namun memantik perdebatan panas yang melampaui batas negara. Di satu sisi, warganet Jepang merasa budaya leluhur mereka "dirusak." Di sisi lain, jutaan wisatawan Muslim justru melihatnya sebagai jembatan indah antara dua peradaban yang berbeda.
Asal Mula Kontroversi: Satu Tweet, Jutaan Reaksi
Semuanya bermula dari cuitan akun @tanpukunokami pada 22 Juni 2026. Postingan itu mempertanyakan fenomena sewa hijab di toko kimono Kyoto, dengan nada yang tidak menyembunyikan kecurigaan.
Cuitan tersebut sudah ditonton lebih dari dua juta kali hanya dalam hitungan hari. Tidak hanya itu, respons balik pun datang bertubi-tubi, termasuk dari warganet Malaysia yang mempertanyakan dasar logika penolakan tersebut.
Perdebatan ini akhirnya meluas menjadi diskusi global tentang toleransi, pariwisata, dan identitas budaya.
Yumeyakata, Toko Kimono yang Memulai Segalanya
Di balik kontroversi ini, terdapat sebuah toko kimono bersejarah bernama Yumeyakata. Toko yang telah berdiri sejak era Edo ini berlokasi di jantung Kyoto.
Yumeyakata bukan sekadar toko sewa biasa, karena koleksinya mencapai lebih dari 500 lembar kimono dengan berbagai motif dan ukuran.
Pada tahun 2018, toko ini mengambil langkah berani dengan merekrut staf Muslim dan menyediakan ruang salat bagi pelanggan.
Langkah tersebut terbukti membuka pintu bagi gelombang wisatawan dari Timur Tengah, Asia Tenggara, bahkan Eropa.
Lahirnya "Wagara Hijab": Perpaduan yang Disengaja
Seiring makin banyaknya pelanggan Muslim yang berdatangan, pertanyaan yang sama terus muncul setiap hari: bagaimana cara memadukan hijab dengan kimono?
Yumeyakata kemudian merancang solusi yang cerdas sekaligus estetis. Lahirlah apa yang mereka sebut sebagai wagara hijab, yaitu hijab bermotif tradisional Jepang yang dirancang khusus untuk berpadu serasi dengan kimono.
Motif-motif seperti sakura dan yukiwa (cincin salju) hadir dalam lebih dari 50 desain dan bahan, termasuk bahan sifon dan renda.
Harga sewanya pun sangat terjangkau, hanya sekitar 300 hingga 500 yen per sewa.
Dua Perempuan di Balik Proyek Ini
Proyek wagara hijab tidak lahir dari ruang hampa. Di baliknya, terdapat dua perempuan luar biasa yang membuktikan bahwa budaya tidak pernah berjalan sendirian.
Samar Mansour, perempuan Prancis keturunan Muslim yang jatuh cinta pada Jepang melalui anime dan manga, bergabung dengan Yumeyakata pada 2016 setelah menempuh sekolah bahasa Jepang di Kyoto.
Seftiana Aryanto, rekannya yang berasal dari Indonesia, ikut terlibat dalam proses perancangan hijab bermotif wagara itu.
Keduanya kini aktif sebagai pemandu wisata jalan kaki di sekitar Kyoto, lengkap mengenakan kimono dan wagara hijab yang mereka sendiri ikut ciptakan.
Mengapa Kimono dan Hijab Justru Cocok Secara Filosofis?
Banyak orang mungkin terkejut mendengar ini, namun Seftiana Aryanto justru melihat kesamaan mendasar antara kimono dan pakaian Muslim.
Kimono, sebagai busana tradisional Jepang, menutup hampir seluruh bagian tubuh pemakainya. Karakteristik itulah yang membuatnya secara alami kompatibel dengan nilai berpakaian dalam Islam.
Oleh karena itu, perpaduan antara keduanya bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan, melainkan justru terasa organik dan harmonis ketika dikenakan bersama.
Respons Warganet: Antara Amarah dan Apresiasi
Reaksi publik terhadap fenomena ini terbagi tajam menjadi dua kutub. Sebagian warganet Jepang menilai kehadiran hijab dalam konteks kimono sebagai bentuk "penghancuran budaya." Bahkan, komentar-komentar bernada agresif terhadap hijab bermunculan di berbagai platform.
Sementara itu, warganet dari Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Muslim lainnya justru merespons dengan hangat dan penuh antusias.
Bagi mereka, inisiatif ini merupakan bukti nyata bahwa Jepang adalah negara yang terbuka dan ramah terhadap wisatawan dari berbagai latar belakang.
Pariwisata Muslim: Pasar yang Tidak Bisa Diabaikan
Di balik perdebatan nilai, terdapat kenyataan ekonomi yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kyoto menerima lebih dari 50 juta wisatawan setiap tahunnya, dan jumlah pengunjung dari dunia Islam terus meningkat secara signifikan.
Wisatawan Muslim kini merupakan salah satu segmen pariwisata paling potensial di dunia. Dengan menyediakan layanan yang inklusif, seperti ruang salat, staf berhijab, dan kini wagara hijab, Yumeyakata secara cerdik membuka akses bagi pasar yang sebelumnya merasa kurang terlayani.
Langkah ini bukan hanya soal toleransi, melainkan juga strategi bisnis yang visioner.
Budaya Bukan Tembok, Melainkan Jembatan
Perdebatan tentang "kemurnian budaya" sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Kimono sendiri, yang kini dianggap sebagai simbol kebudayaan Jepang yang sakral, pada mulanya dipengaruhi oleh pakaian dari daratan Tiongkok.
Selain itu, berbagai elemen budaya Jepang yang populer saat ini, mulai dari seni hingga kuliner, juga berkembang melalui proses akulturasi yang panjang dan bertahap.
Lebih lanjut, para ahli budaya kerap mengingatkan bahwa kebudayaan yang hidup selalu bergerak, menyesuaikan diri, dan menyerap unsur baru tanpa kehilangan inti identitasnya.
Bukan Apropriasi, Ini Apresiasi
Penting untuk membedakan antara apropriasi budaya dan apresiasi budaya. Apropriasi terjadi ketika seseorang mengambil unsur budaya lain tanpa rasa hormat dan pemahaman.
Sebaliknya, apresiasi hadir ketika seseorang mendekati budaya lain dengan rasa ingin tahu yang tulus dan keinginan untuk menghormatinya.
Wisatawan Muslim yang mengenakan kimono di Kyoto termasuk dalam kategori yang terakhir. Mereka datang jauh-jauh ke Jepang, membayar, dan memilih untuk mengenakan busana tradisional setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya tuan rumah.
Apa Kata Pelaku Industri Pariwisata?
Tanggapan dari pelaku industri pariwisata Jepang sendiri cenderung positif dan pragmatis. Toko kimono lain seperti Wargo di kawasan Shinkyogoku juga telah menyatakan dukungan terhadap layanan ramah Muslim, bahkan menjanjikan pengembangan layanan serupa ke depannya.
Platform perjalanan seperti Klook pun secara resmi mencantumkan layanan wagara hijab sebagai salah satu fitur unggulan Yumeyakata.
Tidak hanya itu, ulasan dari para wisatawan yang menggunakan layanan ini mayoritas bersifat sangat positif dan penuh rasa terima kasih.
Kesimpulan: Kyoto Memilih Jadi Tuan Rumah yang Bijak
Kontroversi hijab dan kimono di Kyoto pada akhirnya menjadi cermin bagi masyarakat global tentang cara memandang perbedaan.
Yumeyakata telah membuktikan bahwa menghormati tamu tidak berarti mengkhianati tradisi. Sebaliknya, inovasi wagara hijab justru memperkaya narasi kimono sebagai busana yang mampu merangkul semua orang, tanpa memandang dari mana mereka berasal atau apa yang mereka yakini.
Kyoto, kota yang telah berusia ribuan tahun, sekali lagi mengajarkan dunia bahwa keanggunan sejati selalu menemukan cara untuk menyambut siapa pun yang datang dengan hormat.
Sumber: Komunitas X
© Area Media Newsline







