Anime Kehilangan Daya Tarik di China? Begini Suara Netizen China

8 November 2025, 21:52 WIB
Bagikan:
Anime Kehilangan Daya Tarik di China? Begini Suara Netizen China

AreaTopik.com — Dunia anime Jepang kini menghadapi tantangan besar di China.

Banyak anak muda di Negeri Tirai Bambu mulai berpaling ke arah lain. Mereka lebih memilih menonton anime buatan lokal yang dianggap lebih segar dan sesuai selera generasi baru.

Perubahan Penyaluran Anime di China

Pada 22 Oktober 2025, sebuah postingan di media sosial Xiaohongshu (RED) memicu perdebatan hangat.

Pengguna bertanya, “Mengapa anime Jepang tidak lagi bisa menarik hati anak muda di China?” Banyak warganet menjawab bahwa penyebab utamanya ada pada masalah distribusi dan sensor.

Perubahan Penyaluran Anime di China
Foto: Perubahan Penyaluran Anime di China

Dulu, hampir semua anime Jepang bisa ditonton di platform populer seperti Bilibili. Namun, setelah adanya larangan anime pada tahun 2013, situasinya berubah total.

Beberapa pengguna mengeluh, “Karya bagus hancur karena sensor,” dan “Karya berdarah atau penuh aksi tidak dibeli sejak awal.” Akibatnya, penonton kehilangan akses pada banyak judul besar.

Meski begitu, sebagian orang menilai masalah ini bukan soal izin impor saja. Kini, akses internet semakin mudah dan subtitle bahasa Mandarin tersedia cepat di dunia maya. Jadi, bagi mereka yang ingin menonton, sebenarnya tetap bisa.

Namun, kata beberapa pengguna, minat generasi muda untuk mencari anime Jepang sendiri sudah menurun.

Anak muda sekarang cenderung menunggu rekomendasi dari platform resmi, bukan mencari manual seperti dulu.

Apakah Anime Jepang Sudah Membosankan?

Selain soal distribusi, muncul juga pendapat jujur dari para penonton: “Anime Jepang sekarang terasa membosankan.” Banyak yang merasa kualitas cerita menurun.

Beberapa komentar yang muncul menyebutkan, “Anime sekarang massal dan tidak punya rasa,” atau “Semuanya terlihat sama dan kurang greget.”

Apakah Anime Jepang Sudah Membosankan?
Foto: Apakah Anime Jepang Sudah Membosankan?

Ada pula yang membandingkan dengan masa lalu. “Anime dulu seru, tapi sekarang saya cuma nonton Frieren,” tulis salah satu pengguna.

Ada juga yang mengaku berhenti menonton Demon Slayer di tengah jalan karena bosan. Beberapa penonton lain menilai, insiden pembakaran di KyoAni menjadi titik balik emosional.

Sejak tragedi itu, mereka merasa suasana anime Jepang menjadi “dunia lain” yang jauh dari semangat dulu.

Meski masih ada karya bagus seperti Tentang Pergerakan Bumi, banyak yang menilai standar keseluruhan menurun. Sementara itu, anime buatan China dianggap berkembang pesat dan lebih variatif.

Pergeseran Selera Generasi Baru

Ada juga perubahan dari sisi penonton. Generasi muda di China kini lebih akrab dengan anime lokal. Komentar seperti “Semua anak sekarang menonton anime China” makin sering terdengar.

Hal ini dianggap sebagai tanda pergeseran generasi.

Pergeseran Selera Generasi Baru
Foto: Pergeseran Selera Generasi Baru

Banyak yang menyebut perbedaan format juga berpengaruh. Anime Jepang biasanya punya 10 hingga 13 episode per musim, sedangkan anime China bisa mencapai lebih dari 100 episode. Bagi penonton muda, serial panjang memberi rasa keterikatan yang lebih kuat.

Selain itu, ada perbedaan nilai dan cara bercerita antara kedua negara. Beberapa netizen menyebut ide anime Jepang akhir-akhir ini “terlalu aneh” atau “tidak relevan.” Sementara itu, karya China seperti Luo Xiaogei Senki dianggap lebih dekat dengan realitas mereka. “Kalau Jepang membuat anime seperti ini, mungkin hasilnya seperti Attack on Titan,” tulis salah satu komentar.

Kini, anak muda China memiliki pilihan baru. Mereka tidak harus menerima nilai-nilai Jepang seperti dulu.

Anime lokal telah menjadi alternatif yang membanggakan.

Apakah Ini Akhir Dominasi Anime Jepang?

Meski begitu, bukan berarti anime Jepang kehilangan segalanya. Masih banyak karya berkualitas yang disukai secara global.

Namun, tren di China menunjukkan pergeseran minat yang nyata. Untuk mempertahankan penggemar, industri anime Jepang perlu menyegarkan gaya bercerita dan memperluas pandangan budaya.

Apakah Ini Akhir Dominasi Anime Jepang?
Foto: Apakah Ini Akhir Dominasi Anime Jepang?

Dunia berubah, dan penonton kini punya lebih banyak pilihan. Mungkin ini saatnya Jepang melihat perubahan ini bukan sebagai ancaman, tapi sebagai tantangan untuk berevolusi.

Sumber: Excite Japan